JURNALBANTEN.CO.ID – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat mendorong penjurian pertandingan Cabang Olahraga Shorinji Kempo menerapkan digitalisasi untuk memenuhi rasa keadilan, obyektifitas hasil pertandingan dan keselamatan atlet.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman pada forum konferensi pers di Media Centre PON Bela Diri II 2025 GOR Djarum Foundation di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (21/10) kemarin.
“Untuk saat ini penjurian pertandingan cabang olahraga beladiri terbaik dan aman adalah Taekwondo. Taekwondo sudah digitalisasi. Kita kan harus berbenah ke arah yang lebih baik,” kata Ketua Umum KONI Pusat melalui siaran pers, Rabu, 22 Oktober 2025.
Oleh karena itu, Marciano berharap ke depan penjurian Shorinji Kempo, Tarung Derajat dan cabor beladiri lainnya menerapkan digitalisasi.
Penerapan digitalisasi menjamin rasa keadilan serta obyektifitas pada hasil pertandingan dan keselamatan atlet.
Apa lagi, lanjut Marciano, jika cabang olahraga tersebut bercita-cita masuk Olimpiade maka tidak ada pilihan, kecuali bertransformasi di era digital.
“Kalau masih terus menggunakan penilaian manual berarti mempertahankan ketertinggalan di era modernisasi, padahal olahraga juga perlu transformasi,” ujar Marciano.
Hal senada dikatakan Wakil Ketua Umum I KONI Pusat Mayjen TNI (Purn) Suwarno. Ia mengajak cabang olahraga Shorinji Kempo, Tarung Derajat dan lainnya untuk berubah.
“Kami selalu terlibat diskusi di lapangan maupun forum tertentu yang pada prinsipnya untuk perubahan lebih baik di masa mendatang,” kata Suwarno.
Banyak hal yang perlu dikoreksi dari sistem pertandingan maupun penjurian untuk memenuhi rasa keadilan.
Ia memberi contoh penentuan pemenang melalui perpanjangan waktu dengan konsep siapa yang mencetak poin lebih dulu maka itulah pemenang. (*)
Redaksi








2 Komentar
9hkrve
332j61